> 08 Februari 2008
> MFI: Ngotot Tolak Sensor
> akb/ant
>
>
> JAKARTA--Sejumlah insan perfilman Indonesia
> keberatan bila Lembaga
> Sensor Film (LSF) bertindak sebagai badan 'penjaga
> moral' anak karena
> tanggungjawab penuh atas tontonan anak-anak itu ada
> pada orangtuanya.
> Keberatan itu diungkapkan saat Mahkamah
> Konstitusional (MK) menggelar
> sidang perkara No. 29/PUU-V/2007 tentang pengujian
> UU No. 8 Tahun 1992
> tentang Perfilman terhadap UUD 1945 di Jakarta, Rabu
> (6/2).
>
> Permohonan keberatan itu diajukan oleh lima orang
> pemohon, yaitu Riri
> Riza (sutradara film), Nia Dinata (produser film),
> Shanty (aktris), Rois
> Amriradhiani (penyelenggara festival film), dan Tino
> Saroengallo
> (pengajar dan sutradara film). Pada sidang
> sebelumnya keterangan
> diberikan oleh Taufik Ismail, Ketua MUI, Deddy
> Mizwar dan lainnya selaku
> pihak yang pro-sensor.
>
> Nia Dinata, sebagai salah satu pihak pemohon
> mengajukan keberatannya
> apabila Lembaga Sensor Film (LSF) bertindak sebagai
> badan 'penjaga moral
> anak'. ''LSF bukan penanggung jawab moral anak,''
> katanya. Menurut dia,
> orang tua lah yang harus bertanggung jawab penuh
> mengawasi tontonan
> anaknya.
>
> Nia menuturkan, bahwa ia dan Masyarakat Film
> Indonesia (MFI) mendukung
> kebebasan berekspresi. UU Nomor 8 Tahun 1992 tentang
> Perfilman dianggap
> tidak memberikan klasifikasi terhadap jenis film dan
> reklame film yang
> dilakukan sensor. ''Gugurkan pasal mengenai sensor,
> ganti dengan lembaga
> klasifikasi dan rating yang independen sehingga
> tidak ada lagi sensor
> tertutup seperti yang dilakukan LSF,'' tambahnya.
>
> Diungkapkannya untuk melahirkan suatu bangsa yang
> maju diperlukan
> tontonan yang cerdas, bukan dengan melakukan
> penyensoran di sana-sini
> yang akan menghilangkan esensi dari suatu film.
> ''Yang diperlukan
> hanyalah klasifikasi dan pencantuman peringkat di
> setiap film untuk
> `mengamankan` anak dari tontonan negatif,''
> ungkapnya.
>
> Senada dengan Nia, aktris Dian Sastrowardoyo menilai
> kehadiran LSF saat
> ini sudah tak layak. ''Dengan adanya sensor film,
> kecerdasan bangsa
> Indonesia nol,'' ujar Dian berapi-api. Dian juga
> melihat sensor adalah
> pelecehan terhadap orang Indonesia.
>
> Dian juga membantah bahwa aksi yang dilakukan
> dirinya bersama MPI ini
> sebagai cara supaya mereka bisa membuat film porno.
> ''Kita tidak buat
> film pornografi. Jangan disamakan, tolong dipikirkan
> dengan seksama,''
> katanya. Dian menyatakan untuk seorang aktris atau
> aktor sebuah adegan
> merupakan karya. Kalau sampai adegan itu dipotong
> oleh sensor, karya itu
> seperti disabotase.
>
>
> Berita ini dikirim melalui Republika Online
> http://www.republika.co.id/