BERJIWA BESAR
Seorang anak mendatangi Ayahnya dan bertanya,
bagaimana Ayahnya bisa bersikap tenang dan selalu
tersenyum padahal begitu banyak orang yang sering
membuatnya kecewa.
Sang Ayah pun tersenyum dan menunjukkan sebuah batu
seukuran kepalan tangan. "Kantongi sebuah batu sebesar
ini setiap kali kamu bertemu dengan orang yang
mengecewakanmu. Kembali lagi ke Ayah dalam beberapa
hari" pinta sang Ayah.
Kemudian, baru setengah hari si anak berjalan ia sudah
mengantongi beberapa batu. Satu hari terlalui, semakin
banyak batu yang membebani anak tersebut dan
memberatkan langkahnya. Dengan tertatih ia mendatangi
Ayahnya dan berkata, "berat sekali Ayah, saya tak
sanggup melakukannya. Ini pun baru satu hari,
bagaimana dengan esok dan hari-hari selanjutnya? "
Lagi-lagi Ayahnya tersenyum dan membasuh peluh di
kening anaknya. "Begitulah yang kita rasakan jika
setiap hari harus menanam sakit hati, iri, dengki, dan
berbagai perasaan menderita lainnya di dalam hati.
Berat nak, berat rasanya. Apalagi jika harus terus
menerus membawa beban berat itu sepanjang hidup
kita..."
Kini, giliran sang anak yang tersenyum. Tentu setelah
ia membuang semua batu yang seharian membebani
pundaknya.
-------
Ada orang yang betah bertahun-tahun bermusuhan, ada
lagi yang mengaku sulit memaafkan orang yang telah
pernah menyakitinya. Selain itu, ada orang-orang yang
tak pernah dalam sehari tak iri, tak dengki terhadap
tetangga, sahabat, atau bahkan saudaranya sendiri.
Sulitkah memaafkan? bukankah hidup akan lebih ringan
hanya jika tak banyak yang membebani ruang jiwa ini?
bagaimana Ayahnya bisa bersikap tenang dan selalu
tersenyum padahal begitu banyak orang yang sering
membuatnya kecewa.
Sang Ayah pun tersenyum dan menunjukkan sebuah batu
seukuran kepalan tangan. "Kantongi sebuah batu sebesar
ini setiap kali kamu bertemu dengan orang yang
mengecewakanmu. Kembali lagi ke Ayah dalam beberapa
hari" pinta sang Ayah.
Kemudian, baru setengah hari si anak berjalan ia sudah
mengantongi beberapa batu. Satu hari terlalui, semakin
banyak batu yang membebani anak tersebut dan
memberatkan langkahnya. Dengan tertatih ia mendatangi
Ayahnya dan berkata, "berat sekali Ayah, saya tak
sanggup melakukannya. Ini pun baru satu hari,
bagaimana dengan esok dan hari-hari selanjutnya? "
Lagi-lagi Ayahnya tersenyum dan membasuh peluh di
kening anaknya. "Begitulah yang kita rasakan jika
setiap hari harus menanam sakit hati, iri, dengki, dan
berbagai perasaan menderita lainnya di dalam hati.
Berat nak, berat rasanya. Apalagi jika harus terus
menerus membawa beban berat itu sepanjang hidup
kita..."
Kini, giliran sang anak yang tersenyum. Tentu setelah
ia membuang semua batu yang seharian membebani
pundaknya.
-------
Ada orang yang betah bertahun-tahun bermusuhan, ada
lagi yang mengaku sulit memaafkan orang yang telah
pernah menyakitinya. Selain itu, ada orang-orang yang
tak pernah dalam sehari tak iri, tak dengki terhadap
tetangga, sahabat, atau bahkan saudaranya sendiri.
Sulitkah memaafkan? bukankah hidup akan lebih ringan
hanya jika tak banyak yang membebani ruang jiwa ini?
