Friday, October 13, 2006

Bertaubat, Sebelum Terlambat

 

 Manusia di manapun, baik mereka yang lebih dulu hadir ke dunia maupun yang akan datang kemudian, tidak pernah terlepas dari penyakit lalai (alpa). Bagai peristiwa sambung-menyambung, sifat alpa per-tama telah dilakukan oleh Nabiyullah Adam as dan Siti Hawa dengan memakan buah Khuldi. Maka tepatlah sebuah ung-kapan yang berkata: “insan ashluhu nisyan”, asal kata insan adalah `an-nisyan (alpa). Ungkapan lain mengatakan: “insan mahallul khato wan nisyan”, pada diri manusia itu tempatnya salah dan lupa. Akibat kealpaan itu, manusia dapat terperangkap melakukan kesalahan, pelanggaran, sampai kepada kejahatan. Tingkat pelanggaran dalam Islam dikenal dengan istilah `maksiat'. Setiap orang dengan kealpaannya itu dapat setiap saat terperangkap pada jurang kemaksiatan. Hanya para Nabi dan Rasul saja yang terpelihara dari sifat tercela itu,lantaran mereka adalah utusan Allah yang dikenal memiliki sifat makshum (terpelihara dari kemaksiatan). Satu hal yang juga fitrah dalam diri manusia adalah adanya kecenderungan mereka pada perasaan kebenaran (recht-gevoel). Istilah itu bisa pula berarti `perasaan hukum'. Manusia dalam keadaan bagaimanapun selalu diliputi oleh hukum dan berhajat kepada hukum. Mereka ingin menegakkannya, walaupun terkadang tuntutan hawa nafsu bersikeras menolaknya. Kalangan ahli hukum menyebut hal ini sebagai `hukum ada di mana-mana'. Oleh karena perasaan ingin tegaknya hukum itulah, manusia berupaya untuk mewujudkan keamanan, ketenteraman, dan ketertiban untuk diri, keluarga, dan lingkungannya. Dengan demikian akan terwujud aturan main kehidupan yang dapat berbeda dengan binatang, di mana yang kuat dapat dengan sesuka hatinya menguasai dan memakan si lemah. Kehadiran utusan Allah yakni para Nabi dan Rasul dengan dilengkapi kitab suci-Nya tidak lain adalah untuk menjelaskan kepada manusia agar tidak terjadi hal yang demikian itu. Manusia bukanlah hewan yang dengan seenaknya bisa saling memangsa satu sama lain. Mereka menjelaskan jalan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh. Di sini agama memberi peringatan `amar makruf nahi munkar' dengan turunnya utusan-Nya itu. Kepada mereka yang melanggar, Allah Swt memberi sanksi hukum kepada mereka berupa dosa. Sedang kepada mereka yang berbuat kebaikan Allah akan diberi ganjaran pahala. Dosa dan pahala Tidak ada salahnya kita mengkaji ulang apa yang dimaksud dosa dan pahala. Ini bukan perkara sepele. Bukankah keduanya selalu berkaitan dengan kehidupan kita? Efek-efeknya senantiasa menyertai kita kapan dan di manapun juga? Akibat perbuatan dosa, kita menjadi murung, sedih, kecewa, atau terkadang kehilangan gairah hidup. Jumlah rupiah yang ada di dompet dan besarnya simpanan uang di bank, rumah yang indah, ladang yang luas, tidak membuat hidup kita berbahagia akibat dosa yang kita lakukan. Itulah efek dosa. Sebaliknya, kita terkadang mendapati hidup yang penuh ketenteraman, bahagia —meskipun kata orang kita hanya `cukup hidup dengan nasi dan garam'—tetapi hal itu tidak mengurangi rasa senang, tenteram, dan bahagia yang ada di hati kita. Hidup pun penuh optimisme. Hal ini merupakan buah rasa syukur kita terhadap karunia Allah yang yang telah kita peroleh. Kemudian kita telah berupaya dengan sekuat tenaga menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. Kita berjalan di atas jalan keridhaan-Nya. Dampak-dampak dosa dan pahala sangat riil dalam hidup. Pahala dan dosa bukan sekadar kalimat berita, tapi hal yang sangat berkaitan dengan kehidupan kita, senang-susah, bahagia atau menderita. Allah Swt berfirman: “Barang siapa mengerjakan perbuatan baik walapun sebesar zarrah, niscaya Ia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan perbuatan jahat meskipun seberat zarrah, niscaya Ia akan melihatnya”. (QS Al-Zal-zalah:7-8) Dalam keterangan salah satu hadits disebutkan bahwa raut wajah para pendosa akan diselimuti kabut hitam, sehingga pandangannya tidak bercahaya. Tak ada kesejukan manakala orang memandangnya. Suatu saat dijumpai seorang yang dalam hidupnya melulu diwarnai kesenangan. Setiap hari tempat parkirnya di diskotik, minumannya arak, makanannya barang haram, teman-temannya para perampok, dan hiburannya wanita pelacur. Suatu saat ketika ajal akan datang menjemputnya, ia kembali ke kampung halaman. Masyarakat desa yang tidak tahu-menahu perilaku si Fulan ketika di negeri rantau, heran melihat tabiat mengenaskan si Fulan. Di antara rasa sakitnya di pembaringan, ia menangis sejadi-jadinya sambil bersumpah-serapah. Puluhan orang yang melayat kewalahan memegangi tubuhnya yang meronta-ronta dengan hebat. Tangisnya melolong-lolong, diiringi teriakan minta ampun. Setelah dengan susah payah para pelayat memegangi dan menenangkan, akhirnya si Fulan berangkat ke alam baka dengan tatapan mata menyeramkan. Naudzubillah! Pada saat yang lain, kita dapati si shalih dalam suasana yang berbeda. Detik-detik menjelang akhir hayatnya (mutadhor), dengan sabar dia mengikuti talkin yang dibacakan ke dalam telinganya. Raut mukanya cerah. Dari celah bibirnya selalu terucap kalimat istighfar dan kalimat tauhid, “La ilaha illah”. Pada saat-saat terakhir hidupnya ia rasakan akan tiba, segera dikumpulkan segenap anggota keluarga dan diwasiatkan untuk senantiasa mentaati perintah agama, tidak saling bermusuhan satu sama lain. Kemudian dengan damai ia kembali ke haribaan Illahi Rabbi dengan penuh ikhlas. Wajah jasad itupun tampak berseri-seri di tinggal roh yang selama ini bersemayam dalam dirinya. Ia pergi dengan khusnul khatimah. Memohon ampun dan bertaubat Selagi nafas kita masih ada, pintu ampunan Tuhan dibuka seluas langit dan bumi. Allah Swt berfirman, “Bersegeralah memohon ampunan dari Tuhanmu, dan mohon surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang yang bertaqwa”. (QS Ali Imran: 133) “Kepunyaan Allah apa saja yang ada di langit dan di bumi. Diampuni-Nya siapa yang dikehendaki-Nya, dan disiksa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Ali Imran: 129) Memohon ampun dan bertaubat hendaknya tidak dilakukan dengan main-main atau setengah-setengah. Setengahnya insyaf, setengahnya lagi ingin kembali ke pekerjaan lamanya. Ini sama halnya dengan membiarkan benih penyakit jahat tumbuh kembali dalam diri. Bagi orang yang bertaubat mesti menanamkan niat yang kuat dalam dirinya untuk meninggalkan pekerjaan keliru sejauh-jauhnya. Tutup rapat-rapat lembaran hitam itu dan jangan coba membukanya kembali. Taubatan nashuha (taubat yang baik) laksana seseorang membuang kotoran yang keluar dari perutnya sendiri. Kendati dia tahu persis asal muasal kotoran itu berasal dari makanan yang enak, tetapi setelah berbentuk kotoran ia tidak akan mau melihatnya lagi apalagi disuruh untuk (maaf) memeganginya. Ia bahkan berusaha menjauhi sejauh-jauhnya. Menengokpun tak sudi lagi. Di samping itu, harus benar-benar bersih, ingin kembali ke jalan lurus yang diridhai Allah. Tidak terpengaruh unsur-unsur lingkungan atau fisik. Seorang pelacur yang sudah renta, kemampuan badaniahnya lemah, wajah tidak lagi menarik, yang ingin bertaubat tetapi dalam hatinya masih tertanam keinginan ke sana, taubat yang seperti ini masih dinodai oleh kotoran. Ibaratnya, kaki kanan ingin melangkah ke surga sedang kaki kirinya tetap berdiam di neraka. Taubat seperti ini adalah taubat yang menggantung, yang urusannya hanya Allah Yang Mahatahu. Agar kita selamat, Rasululah menuntun kita untuk selalu mengoreksi diri dengan beristighfar setiap saat. Beliau saw mengajarkan, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tak ada Tuhan kecuali Engkau yang telah menjadikan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku tidak punya kemampuan untuk melaksanakan janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan/kejahatan yang telah aku lakukan. Aku mengakui kepada-Mu atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui pula terhadap dosa-dosaku. Maka ampunilah aku (ya Allah), sesungguhnya tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali Engkau”. (HR Bukhari dari Syaddad bin Aus ra) Syekh Imam Nawawi berkata,” Siapa yang mengucapkan sayyidul istighfar ini di waktu siang dengan yakin, bila dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia adalah ahli surga. Siapa yang mengucapkannya di waktu malam sebelum waktu Shubuh, lalu meninggal dunia pada malam itu, maka dia adalah ahli surga.” Wallahu a'lam bish-shawab.
Agar kita selamat, Rasululah menuntun kita untuk selalu mengoreksi diri dengan beristighfar setiap saat. Beliau saw mengajarkan, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tak ada Tuhan kecuali Engkau yang telah menjadikan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku tidak punya kemampuan untuk melaksanakan janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan/kejahatan yang telah aku lakukan. Aku mengakui kepada-Mu atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui pula terhadap dosa-dosaku. Maka ampunilah aku (ya Allah), sesungguhnya tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali Engkau”. (HR Bukhari dari Syaddad bin Aus ra) Syekh Imam Nawawi berkata,” Siapa yang mengucapkan sayyidul istighfar ini di waktu siang dengan yakin, bila dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia adalah ahli surga. Siapa yang mengucapkannya di waktu malam sebelum waktu Shubuh, lalu meninggal dunia pada malam itu, maka dia adalah ahli surga.” 

Wallahu a'lam bish-shawab.

  
Posted by gindhox at 03:33:44 | Permanent Link | Comments (0) |

Thursday, December 22, 2005

Bila Tubuh Kita adalah Mayat

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga:
Keluarga, Hartanya, dan Amalnya.
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal
Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali
Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...
Terdengarlah Suara Dari Langit Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah
Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat
Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"

Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah

Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan
Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan
Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat....
terdengar Suara Memekik Dari Langit,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu
Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan
Yang Penuh Gelap GulitaDi Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa
Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira
Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata
Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya
Sendirian....
Allah Berkata Kepadanya,
"Wahai Hamba-Ku.....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku
Hari Ini,....
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba- Hamba-Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya
Yang Anda Kenal ...

Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam
menjalani hidup ini.
Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut)
dan dalam sebuah
hadithnya yang lain, belau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha", artinya,
cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!

Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin....
Posted by gindhox at 01:37:53 | Permanent Link | Comments (0) |

Tabah Menyikapi Musibah


Kuncinya, tumbuhkan keyakinan kepada Allah. Kita akan kuat menghadapi
musibah segetir apapun, kalau kita segera kembali kepada Allah. Semakin
cepat kembali pada Allah, maka akan semakin ringan. Semakin utuh dalam
yakin kepada Allah, maka akan semakin tenang hati kita.

Dalam beberapa hari terakhir banyak yang berkonsultasi kepada saya tentang
permasalahan hidup yang mereka alami. Ada yang terlilit utang. Ada yang
anaknya terkena AIDS. Ada yang suaminya terkena penyakit mematikan,
padahal mereka baru saja menikah. Ada yang terpukul karena suaminya
selingkuh. Dan, ada pula yang patah hati karena putus cinta.

Saudaraku, ada saatnya kita akan ditimpa kepahitan dan kegetiran dalam
hidup. Apalagi kalau kita simak janji Allah dalam Alquran bahwa manusia
akan diuji dengan ketakutan, perasaan mencekam, atau panik. Karena itu,
bila musibah itu terjadi, maka, segera bangkitkan kesadaran bahwa inilah
episode yang harus kita dijalani. Kita tidak bisa lari bila waktunya sudah
tiba. Jangan pernah lari dari kenyataan, karena hal ini tidak akan mampu
menyelesaikan masalah.

Kedua, tatkala kesusahan menimpa, segera kumpulkan segenap kekuatan dan
katakan, ''Saya tidak boleh gagal menghadapi ujian ini; saya tidak boleh
hancur dengan ujian ini; hidup saya tidak boleh rusak dengan ujian ini;
saya harus jalani semua ini dengan baik.'' Kalau kata-kata ini terus kita
dengungkan, maka akan ada energi baru yang akan mendorong kita untuk
bangkit dan tangguh menjalani semua musibah tersebut. Dalilnya, ''Aku
adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku.''

Ketiga, yakinlah bahwa segala sesuatu pasti ada ujungnya. Setiap ujian
akan berakhir, tidak mungkin akan abadi sepanjang kita hidup. Allah SWT
akan menguji manusia berepisode-episode. Dalam QS Al-Baqarah ayat 184
disebutkan, Allah tidak akan membebani hamba-Nya, melainkan sesuai dengan
kemampuan hamba tersebut. Ingatlah akan janji Allah bahwa sesudah
kesulitan pasti akan ada kemudahan; pasti bersama kesulitan itu akan ada
kemudahan (QS Alam Nasyrah [94]: 5-6).

Kita pun bisa melihat orang yang ditimpa kesulitan lebih hebat, tapi
mereka tetap kuat. Lihatlah bagaimana beratnya Bilal bin Rabah disiksa
dengan himpitan batu besar di tengah padang pasir yang panas, ternyata
ujian ini pun berakhir, dan beliau menjadi seorang manusia yang dihormati.

Keempat, teguhkan dalam hati bahwa saya harus mendapatkan nilai tambah
dari penderitaan ini. Allah tidak akan pernah zalim kepada hamba-Nya,
pasti ada hikmah di balik setiap kejadian. Ada berjuta kenikmatan yang
menanti kita di ujung penderitaan ini, dan kita mesti
mendapatkannya. ''Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian,
berjuang terlebih dahulu, bersenang-senang kemudian.''

Kita bisa melihat orang yang siap menghadapi ujian, ia senang karena di
akhir ia akan diwisuda. Lihat seorang yang mendaki gunung tinggi, ia
senang karena akan melihat pemandangan indah di puncak. Karena itu,
fokuskan keberuntungan yang akan kita raih di masa datang.

Kuncinya, tumbuhkan keyakinan kepada Allah. Kita akan kuat menghadapi
musibah segetir apapun, kalau kita segera kembali kepada Allah. Semakin
cepat kembali pada Allah, maka akan semakin ringan. Semakin utuh dalam
yakin kepada Allah, maka akan semakin tenang hati kita. Dalam Alquran,
Allah SWT berjanji akan membahagiakan orang-orang yang sabar, yaitu yang
tatkala di timpa musibah, ia bulat kembali kepada Allah. Dan sampaikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila
ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ''Sesungguhnya kami adalah kepunyaan
Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.'' (QS Al-Baqarah [2]: 155-156)

Kenapa kita menderita walau hanya karena persoalan kecil? Sebabnya, kita
tidak berhasil secepatnya mengembalikan urusan pada Allah SWT. Contoh yang
kehilangan kendaraan, semakin ingat kendaraan akan semakin sengsara pula
batin kita. Harusnya kita lebih ingat kepada Allah yang memberikan
kendaraan tersebut, bukannya lebih ingat pada kendaraan. Ingat ke
kendaraan milik saya, akan berat. Ingat ke kendaraan milik Allah, akan
lebih ringan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
( KH Abdullah Gyimnastiar )
Posted by gindhox at 01:32:29 | Permanent Link | Comments (0) |